usulan penelitian kualitatif

7:48:00 AM
PENDAHULUAN
            Hampir dapat dipastikan bahwa proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan biaya yang memadai. Implikasi diberlakukannya kebijakan desentralisasi pendidikan, membuat para pengambil keputusan sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan referensi tentang komponen pembiayaan pendidikan. Kebutuhan tersebut dirasakan semakin mendesak sejak dimulainya pelaksanaan otonomi daerah yang juga meliputi bidang pendidikan.Apalagi masalah pembiayaan ini sangat menentukan kesuksesan program yang saat ini diberlakukan.
            Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan
yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahanpermasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal pembiayaan pendidikan ini.
            Pemberlakuan sistem desentralisasi akibat pemberlakuan Undang- Undang No.22 Tahun 1999 tentang otonomi pemerintahan daerah, member dampak terhadap pelaksanaan pada manajemen pendidikan yaitu manajemen yang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada pengelolaan pendidikan untuk menemukan strategi berkompetisi dalam era kompetitif mencapai output pendidikan yang berkualitas dan mandiri. Kebijakan desentralisasi akan berpengaruh secara signifikan dengan pembangunan pendidikan. Setidaknya ada  4 dampak positif untuk mendukung kebijakan desentralisasi pendidikan, yaitu :   1) Peningkatan mutu, yaitu dengan kewenangan yang dimiliki sekolah maka sekolah lebih leluasa mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya yang dimiliki; 2) Efisiensi Keuangan, hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional; 3) Efisiensi Administrasi, dengan memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur yang bertingkat-tingkat; 4) Perluasan dan pemerataan, membuka peluang penyelenggaraan pendidikan pada daerah pelosok sehingga terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan
            Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan/kemadirian, yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, dan merdeka/tidak tergantung. Kemandirian dalam program dan pendanaan merupakan tolok ukur utama kemadirian sekolah. Pada gilirannya, kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan
perkembangan sekolah. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”, misalnya swasembada, swadana, swakarya, dan swalayan2. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan
 spirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan sendiri beradasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/ menghargai perbedaan pendapat,
kemampuan memobilisasi sumberdaya, kemampuan memilih cara pelaksanaan  yang terbaik, kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif, kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaptif dan antisipatif, kemampuan bersinergi dan berkolaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.
            Otonomi pendidikan di era otonomi daerah, di samping untuk memberikan otonomi kepada daerah dalam pengelolaan pendidikan, juga memberikan otonomi yang lebih luas kepada sekolah dalam pengelolaan pendidikan yang kemudian diperkuat dengan turunnya PP 19 tahun 2005 yang menyatakan bahwa sekolah pada semua jenjang dan tingkatan di Indonesia menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan kepada sekolah dan mendorong partisipasi langsung warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku5. Dengan otonomi tersebut, sekolah diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan sesuai dengan keinginan dan tuntutan sekolah serta masyarakat atau stakeholder. Dengan otonomi yang lebih besar sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya
            Salah satu sekolah yang telah melaksanakan pembiayaan pendidikan berdasarkan manajemen berbasis sekolah adalah SMK xxx, hal tersebut diperkuat dengan prestasi yang diperoleh SMK xxx yakni penghargaan Sertifikat ISO 9001:2000. Penyerahan penghargaan ini dilakukan oleh perwakilan dari USR selaku pelaksana ISO Award kepada Walikota, Drs. deni Suparto, M.AP dan diteruskan kepada Kepala sekolah. ISO 9001:2000 merupakan salah satu syarat untuk peningkatan status sekolah menjadi standar Internasional. Pemberian penghargaan tersebut didasarkan atas pelaksanaan manajemen sekolah yang baik dan serius sehingga tercapai kesejahteraan dan peningkatan mutu SDM yang ada si sekolah tersebut serta menghasilkan output siswa yang siap direkrut oleh dunia kerja
            Dari rangkaian latar belakang permaslahan diatas, maka peneliti berinisiatif untuk mengambil judul “PEMBIAYAAN PENDIDIKAN BERDASARKAN STRATEGI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SMK XXX

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pembiayaan pendidikan berdasarkan strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMK XXX ?
2. Bagaimanakah peluang dan tantangan pembiayaan pendidikanberdasarkan strategi Manjemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMK XXX ?

C. Tujuan penelitian
Berdasarkan dua rumusan masalah di atas, maka tujuan dari pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pembiayaan pendidikan berdasarkan strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMK XXX
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan peluang dan tantangan dalam pembiayaan pendidikan berdasarkan strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMK XXX
D. kegunaan penelitian
Secara teoritis manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi gambaran pada cara pembiayaan pendidikan beradasarkan strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
2. Memberi kontribusi pada cara pemahaman konsep pembiayaan berdasarkan strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).










TINJAUAN PUSTAKA

A. PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

1. Pengertian Pembiayaan Pendidikan
            Biaya (cost) merupakan salah satu komponen masukan (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, biaya dapat diartikan sebagai semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan. Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Biaya pendidikan dapat juga diartikan sebagai semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga (yang dapat dihargakan dengan uang
            Pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektivitas dan penerapan pengelolaan pendidikan, lebih terasa lagi dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan pengelolaan dana ecara transparan kepada masyarakat

2. Jenis-Jenis Pembiayaan Pendidikan.
            Dalam teori dan praktek pembiayaan pendidikan, baik pada tataran makro (nasional) dan mikro (sekolah), dikenal jenis-jenis biaya pendidikan yakni biaya langsung (direct cost) dan tak langsung (indirect cost), biaya pribadi (private cost) dan biaya sosial (social cost), biaya
dalam bentuk uang (monetary cost) dan biaya bukan dalam bentuk uang (non-monetray cost). Sedangkan menurut sumbernya, biaya pendidikan tergolong atas biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat orang tua/wali siswa, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat bukan orang tua/ wali siswa, dan lembaga pendidikan itu sendiri.

3. Sumber-sumber Pembiayaan Pendidikan
            Menurut Harsono, biaya pendidikan tergolong atas biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat orang tua/wali siswa, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat bukan orang tua/ wali siswa, dan lembaga pendidikan itu sendiri20. Sedangkan menurut Dedi Supriadi, sumber-sumber biaya terbagi
atas biaya pendidikan pada tingkat makro (nasional) dan biaya pendidikan pada tingkat mikro (sekolah). Biaya pada tingkat makro berasal dari:
a. Pendapatan negara dari sektor pajak
b. Pendapatan dari sektor non-pajak misalnya dari pemanfaatan sumber daya alam dan produksi nasional lainnya yang lazim dikategorikan ke dalam gas dan non-migas
c. Keuntungan dari sektor barang dan jasa
d. Usaha-usaha negara lainnya, termasuk dari divestasi saham pada perusahaan negara (BUMN)
e. Bantuan dalam bentuk hibah dan pinjaman luar negeri.

Sedangkan biaya pada tingkat mikro (sekolah), berasal dari subsidi pemrintah pusat, pemerintah daerah, iuran siswa, dan sumbangan masyarakat.

Kerangka Berpikir
            Sejak digulirkan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku 1 Januari 2001, wacana desentralisasi pemerintahan ramai dikaji. Pendidikan termasuk bidang yang didesentralisasikan ke pemerintah kota/kabupaten. Melalui desentralisasi pendidikan diharapkan permasalahan pokok pendidikan yaitu masalah mutu, pemerataan, relevansi, efisiensi dan manajemen, dapat terpecahkan. Cukupkah desentralisasi pendidikan pada tingkat pemerintah kota/kabupaten? Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa desentralisasi pendidikan tidak cukup hanya pada tingkat kota/kabupaten. Desentralisasi pendidikan untuk mencapai otonomi pendidikan yang sesungguhnya harus sampai pada tingkat sekolah secara individual.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata sekolah yang baik yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas, efektivitas, efisiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan (Depdiknas, 2007 : 16).
            MBS memiliki unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga non-struktural yang disebut komite sekolah sekolah yang anggotanya terdiri dari guru, kepala sekolah, administrator, orang tua, anggota masyarakat dan murid.






















analisis lingkungan eksternal bank central asia ( BCA )

7:45:00 AM

Bank Central Asia

·        Visi
Visi dari Bank BCA Adalah Bank pilihan utama andalan masyarakat, yang berperan sebagai pilar penting perekonomian Indonesia.
·        Misi
1.      Membangun institusi yang unggul di bidang penyelesaian pembayaran dan solusi keuangan bagi nasabah bisnis dan perseorangan
2.      Memahami beragam kebutuhan nasabah dan memberikan layanan financial yang tepat demi tercapainya kepuasan optimal bagi nasabah.
3.      Meningkatkan nilai franchais dan nilai stakeholder BCA

·        Analisis lingkungan eksternal

External factor
Weight
rating
Weight score
comments
Opportunity ( kesempatan )
1.      tekad pemerintah
0.07
2
0.14
Sejalan dengan tekad pemerintah yang terus mengembangkan perekonomian Indonesia
2.      pola hidup masyarakat yang konsumtif
0.1
3
0.3
Kecenderungan pola hidup masyarakat yang konsumtif, merupakan salah satu peluang yang perlu dicermati untuk meningkatkan jenis produk jasa kredit perbankan dan kualitas pelayanan bagi nasabah
3.      Kecepatan kemajuan teknologi informasi
0.1
3
0.3
Kecepatan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung komitmen BCA untuk mempermudah pelayanan demi meningkatkan kepuasan nasabah.
4.      Jaringan yang luas
0.09
3
0.27
Jaringan yang luas dari kantor cabang dan kantor cabang pembantu di seluruh Indonesia
5.      Jaringan atm yang besar
0.11
3
0.33
Per 31 Maret 2011 telah memiliki sekitar 7.555 ATM tunai maupun non-tunai serta ATM Setoran Tunai yang disediakan di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia.
6.      Mempunyai produk yang  inovatif  dan memenuhi kebutuhan secara akurat
0.1
3
0.3
Dalam mengembangkan produk dan jasa yang bca tawarkan mempertimbangkan kebutuhan nasabah yang selalu berubah. Lebih jauh lagi terus menyempurnakan setiap produk atau jasa dengan menambahkan berbagai fitur baru untuk meningkatkan kenyamanan nasabah dalam menggunakannya. KlikBCA Individual Internet banking, m-BCA mobile , KlikBCA Bisnis dan BCA Bizz
7.      Pengamanan (Security)
0.08
3
0.24
BCA saat ini memiliki dua mainframe di dalam negeri. Karena setiap transaksi ditangani secara mirroring pada kedua mainframe tersebut,. BCA juga memiliki mainframe yang berfungsi sebagai Disaster Recovery Center di Singapura,




Threat  (hambatan )
8.      Perkembangan dunia bisnis
0.07
2
0.14
Perkembangan dunia bisnis semakin kompleks dengan tingkat persaingan yang tinggi ditengah kondisi perekonomian Indonesia yang terus bergejolak dan tingkat inflasi yang cukup tinggi.
9.      Selera masyarakat
0.06
2
0.12
Masyarakat cenderung meminati layanan perbankan yang simple dan menawarkan berbagai macam fleksibilitas serta berbagai macam hadiah yang menggiurkan.
10.  Tingkat inflasi
0.06
2
0.12
Tingkat inflasi yang terus meningkat mengurangi minat masyarakat untuk menyimpan uang di bank.
11.  saldo awal terlalu tinggi
0.06
1
0.06
saldo awal mungkin terlalu mahal bagi sebagian masyarakat yang mencapai  Rp 500.000

12.  Antrian pada saat  setoran
0.05
1
0.05
Antrian yang diniali terlalu panjang  yang dapat mengakibatkan nasabah malas
13.  Pelayanan kurang ramah
0.05
1
0.05
Banyak yang mengeluhkan  pelayanan pada saat melakukan complain  tidak baik
Jumlah
1

2.42







PELATIHAN & PENGEMBANGAN TENAGA KERJA

12:03:00 PM
Sasaran :
Membedakan pelatihan dan pengembangan
Menerangkan tujuan pelatihan dan pengembangan
Menguraikan teori koneksionisme dan kognitif
Menjelaskan 6 tahap penyusunan program pelatihan & pengembangan
Menguraikan penilaian efektifitas program pelatihan & pengembangan

Pendahuluan

Bagian ini merupakan aplikasi dari penggunaan prinsip umum dari psikologi yaitu prinsip pembelajaran. Dalam arti setelah karyawan diterima maka pengetahuan sikap dan keterampilan masih perlu untuk disesuaikan dengan yang diperlukan perusahaan, perkembangan teknologi menyebabkan timbulnya mesin-mesin baru yang lebih canggih diperlukan adanya penyesuaian penguasaan alat untuk mengoperasikannya.

Pengertian

Pelatihan adalah proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga tenaga nonmanajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu.

Pengembangan adalah proses pendidikan jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir sehingga tenaga kerja nonmanajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan yang umum

Tujuan dari pelatihan dan pengembangan
1. meningkatkan produktivitas :pelatihan dapat meningkatkan prestasi untuk berproduksi
2. meningkatkan mutu : pengetahuan dan keterampilan dapat mengurangi eror kerja
3. meningkatkan ketepatan dalam perencanaan SDM : mendapatakn SDM yang sesuai
4. meningkatkan semangat kerja : iklim menjadi lebih kondusif jika diberi pelatihan
5. menarik dan menahan karyawan yang berkualitas : implikasinya adalah kenaikan karir
6. menjaga kesehatan dan keselamatan kerja
7. menghindari keusangan
8. sebagai personal growth

Prinsip Pembelajaran

Pembelajaran merupakan dasar dari perilaku manusia Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen yang dihasilkan melalui latihan dan pengalaman, sebagai hasil dari merespon stimulus.

Teori koneksionisme dasarnya adalah keterkaitan antara stimulus dan respon. Pembelajaran diartikan sebagai suatu pengembangan perilaku sebagai hasil dari respon individu terhadap stimulus. Yang perlu untuk diberi penguatan (reinforcement), diperlukan adanya upaya penghindaran, pemadaman atas perilaku yang tidak diharapkan, diperlukan adanya reward dan punishment.

Teori cognitive merupakan prinsip pembelajaran yang menekankan pada proses kesadaran akan pemahaman dan pengenalan. Dengan penstrukturan kembali persepsi akan menghasilkan pemahaman, yang merupakan ciri dari suatu kegiatan intelektual. Perilaku manusia ditentukan melalui stimulus dengan pengantara cognitif akan menghasilkan respon.

Konsep pembelajaran

Agar proses pembelajaran dapat menjadi efektif maka diperlukan adanya suatu konsep dari pembelajaran.

Motivasi : secara umum pembelajaran dapat berjalan secara efektif jika ada motivasi untuk belajar, karena itu diperlukan adanya insentif agar seseorang mau belajar. Penguatan positif : suatu kejadian yang meningkatkan perilaku maka akan diulangi kembali. Pengetahuan tentang hasil : dengan mengetahui hasil yang didapatkan maka peserta dapat fokus pada apa yang belum dikuasainya. Experiential learning : pembelajaran memerlukan adanya praktek dan penghayatan. Transfer of training : pelatihan harus memberikan efek adanya pengembangan sebagai indikator atas adanya pemidahan pengetahuan dalam training.

Aturan pembelajaran

Untuk melancarkan proses pembelajaran harus ada aturan yang perlu diperhatikan.

Aturan pembentukan asosiasi
1. perlu sering adanya pengulangan
2. perlu adanya perhatian dan minta
3. pengulangan bersifat distributif
4. prinsip pembelajaran keseluruhan
5. pengulangan aktif dengan membaca keras lebih efektif
6. STM bisa menurun dengan cepat
7. memori menjadi lebih baik dengan metode pengelempokan
Hal yang membantu pembelajaran selektif
1. menggunakan metode seleksi positif
2. pengetahuan tentang hasil adalah pokok untuk seleksi
3. hubungan causa dibuat jelas dan berarti
4. diperlukan adanya instruksi yang baik

Memperhatikan pembedaan penginderaan
Sejauh mana kemampuan penginderaan (pengelihatan, pendengaran, dll) dari trainee untuk membedakan rangsang penginderaan.

Penyusunan program pelatihan/pengembangan

1. identifikasi kebutuhan pelathihan atau studi pekerjaan
Miner (1992) mengembangkan ada 4 macam keterampilan yang pada umumnya diberikan dalam pelatihan : a. Knowledge based skill ( keterampilam yang berbasis pada pengetahuan yang dikuasai misalnya training untuk menjalani pekerjaan sebagai customer service) ; b. Singular behavior skill ( kecakapan perilaku kerja yang sederhana misalnya senyum dalam melayani cutomer) ; c. Limited interpersonal skill (kemampuan interpersonal terbatas misalnya cara mendelegasikan tanggung jawab terhadap bawahan) ; d. Social interactive skills (keterampilan sosial-interaktif misalnya kemampuan untuk memanage konflik, kepemimpinan yang efektif).

2. Penetapan sasaran
Sasaran dibagi menjadi dua yaitu sasaran umum, yang masing-masing dibedakan lagi menjadi sasaran pelatihan (adanya pengenalan prinsip-prinsip umum yang dapat digunakan dalam situasi kerja sehari-hari) dan sasaran bagi subjek (setelah mengikuti pelatihan karyawan menampilkan perilaku kerja yang seusai dan yang didapatkannya dari pelatihan). Sasaran khusus; sasaran kognitif (peserta memahami dan mampu mengidentifikasi), sasaran afektif (peserta menunjukkan adanya kesediaan), sasaran psikomotor (penguasaan motorik dalam menjalani pekerjaan misalnya mengetik).

3. Penetapan kriteria keberhasilan dengan alat ukurnya
Jika sebagaian besar trainee menunjukkan adanya penguasaan, maka dapat disimpulkan proses pelatihan efektif. Untuk mengetahui adanya penguasaan yang meningkat, sebelum pelatihan dilakukan ujian tentang taraf penguasaan trainee (pre-test), dan dibandingkan dengan hasil ujian yang diberikan setelah pelatihan diberikan, kemudian dihitung taraf kontribusinya.

4. Penetapan meotde pelatihan
a. kuliah : untuk biaya yang rendah dan waktu yang cukup singkat
b. konprensi : pengembangan pengertian dan pembentukan sikap baru melalui diskusi
c. studi kasus : untuk melatih daya fikir yang analitis
d. bermain peran : pemahaman mengenai pengaruh perilaku melalui sandiwara
e. bimbingan terencana : urutan langkah yang menjadi pedoman kerja
f. simulasi : melatih dalam kondisi kerja buatan yang mirip dengan kondisi kerja asli
5. Percobaan dan riset
Setelah kebutuhan pelatihan, sasaran pelatihan ditetapkan, kriteria keberhasilan dan alat ukurnya dikembangkan, bahan untuk latihan dan metode latihan disusun dan ditetapkan maka langkah berikutnya adalah melakukan uji coba paket penelitian.

Model penilaian efektifitas dari program pelatihan/pengembangan

Tujuannya adalah knowledge transfer dan efektivitas program dirumuskan dalam “apakah tercapainya sasaran pelatihan menghasilkan peningkatan unjuk kerja pada pekerjaan?. Sacket dan Mullen (1993) tujuan evaluasi program dibagi dua : aspek perubahan dan aspek tingkat unjuk kerja yang dicapai.

Model reaksi dari trainee
Adanya penilaian dari peserta sebagai umpan balik terhadap program

Model after-only dan before-only
Didasarkan pada hasil tes yang dilakukan setelah pelatihan diberikan (after)
Didasarkan pada hasil tes yang dilakukan sebelum pelatihan diberikan (before)
Didasarkan pada hasil tes sebelum dan sesudah pelatihan diberikan (before- after)

Model implikasi bagi karyawan
Dengan pelatihan kontribusi karyawan menjadi bertambah, maka implikasinya adalah harus ada imblan seperti kenaikan karir atau gaji.

Kisah Sukses Lee Myung Bak

11:52:00 AM


Jika kita sering mendengarkan filosofi “Success is My Right”, yakni sukses adalah hak milik siapa saja, barangkali kisah yang dialami presiden terpilih Korea Selatan ini mampu menjadi contoh nyata. Lee Myung-bak yang baru saja memenangkan pemilu di Korea ternyata punya masa lalu yang sangat penuh derita. Namun, dengan keyakinan dan perjuangannya, ia membuktikan, bahwa siapa pun memang berhak untuk sukses. Dan bahkan, menjadi orang nomor satu di sebuah negara maju layaknya Korea Selatan.
Coba bayangkan fakta yang dialami oleh Lee pada masa kecilnya ini. Jika sarapan, ia hanya makan ampas gandum. Makan siangnya, karena tak punya uang, ia mengganjal perutnya dengan minum air. Saat makan malam, ia kembali harus memakan ampas gandum. Dan, untuk ampas itu pun, ia tak membelinya. Keluarganya mendapatkan ampas itu dari hasil penyulingan minuman keras. Ibaratnya, masa kecil Lee ia harus memakan sampah.

Terlahir di Osaka, Jepang, pada 1941, saat orangtuanya menjadi buruh tani di Jepang, ia kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Kemudian, saat remaja, Lee menjadi pengasong makanan murahan dan es krim untuk membantu keluarga.“Tak terpikir bisa bawa makan siang untuk di sekolah,”sebut Lee dalam otobiografinya yang berjudul “There is No Myth,” yang diterbitkan kali pertama pada 1995.
Namun, meski sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, ia belajar keras demi memperoleh beasiswa agar bisa meneruskan sekolah SMA. Kemudian, pada akhir 1959, keluarganya pindah ke ibukota, Seoul, untuk mencari penghidupan lebih baik. Namun, nasib orangtuanya tetap terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan. Saat itu, Lee mulai lepas dari orangtua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. “Mimpi saya saat itu adalah menjadi pegawai,” kisahnya dalam otobiografinya.
Lepas SMA, karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk biayanya, ia bekerja sebagai tukang sapu jalan. Saat kuliah inilah, bisa dikatakan sebagai awal mula titik balik kehidupannya. Ia mulai berkenalan dengan politik. Lee terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa, dan telibat dalam aksi demo antipemerintah. Karena ulahnya ini ia kena hukuman penjara percobaan pada 1964. Vonis hukuman ini nyaris membuatnya tak bisa diterima sebagai pegawai Hyundai Group. Sebab, pihak Hyundai kuatir, pemerintah akan marah jika Leediterima di perusahaan itu. Namun, karena tekadnya, Lee lantas putar otak. Ia kemudian membuat surat ke kantor kepresidenan. Isi surat bernada sangat memelas, yang intinya berharap pemerintah jangan menghancurkan masa depannya. Isi surat itu menyentuh hati sekretaris presiden, sehingga ia memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.
Di perusahaan inilah, ia mampu menunjukkan bakatnya. Ia bahkan kemudian mendapat julukan “buldozer”, karena dianggap selalu bisa membereskan semua masalah, sesulit apapun. Salah satunya karyanya yang fenomonal adalah mempreteli habis sebuah buldozer, untuk mempelajari cara kerja mesin itu. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Kemampuan Lee mengundang kagum pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi pimpinannya itu, prestasi Lee terus melesat. Ia langsung bisa menduduki posisi tertinggi di divisi konstruksi, meski baru bekerja selama 10 tahun. Dan, di divisi inilah, pada periode 1970-1980 menjadi mesin uang Hyundai karena Korea Selatan tengah mengalami booming ekonomi sehingga pembangunan fisik sangat marak.
Setelah 30 tahun di Hyundai, Lee mulai masuk ke ranah politik dengan masuk jadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian, pada tahun 2002, ia terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Dan kini, tahun 2007, Lee yang masa kecilnya sangat miskin itu, telah jadi orang nomor satu di Korea Selatan. Sebuah pembuktian, bahwa dengan perjuangan dan keyakinan, setiap orang memang berhak untuk sukses.
Keberhasilan hidup Lee, mulai dari kemelaratan yang luar biasa hingga menjadi orang nomor satu di Korea Selatan, adalah contoh nyata betapa tiap orang bisa merubah nasibnya. Jika orang yang sangat miskin saja bisa sukses, bagaimana dengan kita? Mulailah dengan keyakinan, perjuangan, dan kerja keras, maka jalan sukses akan terbuka bagi siapapun.

Sumber: www.ceritadanwarta.com

KISAH SUKSES COLONEL SANDERS KFC

11:48:00 AM

`Inilah kisah kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken atau KFC yang telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.

Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Dia lahir pada 9 September 1890 di Henryville, Indiana, namun baru mulai aktif dalam mewaralabakan bisnis ayamnya di usia 65 tahun. Di usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia sudah mulai menunjukkan kebolehannya.

Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah, sehingga ia meninggalkan rumah tempat tinggalnya untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Indiana. Selepas itu, ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.

Pertama, sebagai tukang parkir di usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan ke Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.
Di usia 40 tahun, Kolonel ini mulai memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin. Kolonel Sanders belum punya restoran pada saat itu. Ia menyajikan makanannya di ruang makan di bengkel tersebut. Karena semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran bisa menampung 142 orang.

Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi negara bagian Cuisine. Dan pada tahun 1939, keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in Good Eating.”

Di awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel ini akhirnya menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.

Dikarenakan memiliki rasa percaya diri kuat akan kualitas ayam gorengnya, Kolonel membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi negara bagian ini dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual.

Pada 1964, Kolonel Sanders sudah memiliki lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu juga ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y Brown Jr, (kelak menjadi Gubernur Kentucky). Pada tahun 1976, sebuah survey independen menempatkan Kolonel Sanders sebagai peringkat kedua dari deretan selebriti yang terkenal di dunia.

Di bawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh pesat yang kemudian menjadi perusahaan terbuka pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3.500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan ini beroperasi hampir di seluruh dunia. Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari RJ Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco Inc oleh PepsiCo Inc, seharga kurang lebih 840 juta dolar.

Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya — KFC, Taco Belldan Pizza Hut – menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans Inc. Pada Mei 2002, perusahaan ini mengumumkan persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.

KFC berkembang pesat. Kini, lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel ini dinikmati setiap tahunnya, bukan hanya di Amerika Utara, bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia. Tapi Kolonel Sanders tidak lagi bisa menyaksikannya. Pada 1980, di usia 90 tahun, ia terserang leukemia. Ia meninggal seusai melakukan perjalanan 250.000 mil dalam satu tahun kunjungannya ke restoran KFC di seluruh dunia.
“Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat usia senja.” Kolonel Sanders, pendiri KFC

Postpositivisme phenomologik-interpretif

2:21:00 AM
Dilihat dari sisi filsafat ilmu ada perbedaan mendasar antara pendekatan positivistic dan rasionalistik  di stu pihak dengan pendekatan phenomenologik di lain pihak .pendekatan 2 yang pertama hanya mengakui kebenaran empiric sensual dan empiric logic adapun 2 pendekatan yang kedua mengakui adanya adanya kebenaran empiric etik yang memerlukan akal budi untuk melacak dan menjelaskan serta beragumentasi .. nilai moral yang digunakan pada dua yang pertama terbatas pada nilai moral tunggal yaitu truth of false , nilai moral yang digunakan pada dua yang kedua yaitu nilai moral ganda hirarki
Asumsi dasar dari pendekatan phenomologik adalah bahwa manusia dalam berilmu pengetahuan tak lepas dari pandangan  moralnya baik  pada taraf mengamati , menghimpun data , menganalisis maupun dalam membuat kesimpulan . tak dapat lepas bukan berarti keterpaksaan melainkan momot etik
Pendakatan phenomonologik bukan hendak berpikir spekulatif melainkan hendak mendudukan tinggi pada kemampuan manusia untuk berpikir reflektif dan lebih jauh menggunakan logika itu disamping logika induktif dan deduktif .serta logika materil dan logika probabilistic . pendekatan ini bukan hendak menampilkan teory dan konseptualisasi yang sekedar berisi anjuran dan imperative melainkan mengangkat makna etika dalam berteory dan berkonsep
1)      Model interpreting geertz
Geertz  menolak etniscientific model dari levi’s strauus . levi’s bukan menampilkan gambar kehidupan melainkan mengubah yang hidup menjadi suatu system formal budaya . menurut geertz tak ada social facts yang menunggu observasi kita yang ada adalah kesiapan peneliti untuk memberi makna atas observasinya .
2)      Model grounded research
1)      Upaya mencari sosok kualitatif
Model model kualitatif dapat dikelompokan menjadi enam model yaitu
  • Model interaktik geerta
  • Grounded research  dari glasser dan strauus
  • Model ethnometodologi dari bogdant
  • Model paradigm naturalistic  dari gubba dan Lincoln
  • Model interaksi simbolik dari blummer
  • konstruktivis goodman
2)      grounded theory
menemukan teory berdasar data em[piri bukan membangun theory secara deduktif logis itulah grounded theory
3)      model verivikasi positivist minimkan munculnya theory baru
pendekatan rasionalisme mengkritik pendekatan positivism karena tiadanya paying ground theory yang mengakibatkan pemiskinan theory
4)      analisis komparatif
lewat komparasi kita dapat membuat generalisasi . fungsi generalisasi adalah untuk membantu memperluas terapan teorynya , memperluas daya prediksinya
5)      menemukan theory
glasser dan strauus mempertengahkan dua theory  yaitu theory substansi dan theory formal . theory substansi ditemukan dan dibentukl untuk daerah subtansi tertentu sedang theory formal ditemukan dan dibentuk untuk kawasan category konseptual teoritik
6)      sampling teoritis
untuk menemukan teori para peneliti perlu memiliki sensitivitas teoritis artinya begitu menjumpai sejumlah data mampu segera menyususn konsep local , menemukan ciri ciri pokok dari sasaaran penelitianya
7)      dari teori substansif ke teori formal
teori substansif memiliki jangkauan generalisasi pada suatu daerah substansif penelitian sedang teori formal memiliki jangkauan generalisaasi pada teori tertentu
8)      peran pemikiran berkelanjutan dan peran pengalaman orang lain
peran pengalaman orang lain atau diri sendiri dimasa lampau dapat saja direflesikan sebagai pengganti observasi sendiri sebagai peneliti dengan modal pengetahuan dasar metodologi time sampling dan behavior sampling
3)      model etnografik – etnometodologi
1)      Etnographi dan Ethnometodologi
Ethnographi merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait dengan anthropologi yang mempelajari peristiwa cultural yang menyajikan pandangan hidup subyek yang menjadi objek study
Etnometodologi merupakan metodologi penelitian yang mempelajari bagaimana perilaku social dapat dideskripsikan sebagaimana adanya , ethnometodologi berup[aya untuk memahami bagaimana mayarakat memandang ,menjelaskan,dan menggambarkan tatahidup mereka sendiri
2)      Modus asumsi dan sampel penelitian ethnographic konseptual metodologi model penelitian ethnographic dapat dikategorikan menjadi empat dimensi yaitu induktif deduksi,generalisasi-verivikatif, konstruktif enumerative dan subjektifv obyektif ‘
Study ethnographic menetapkan sampel atas prinsip pregmatik atau teoritik bukan atas prinsip acak probabilitas , tujuan pengamhbilan sampel tersebut dimaksudkan agar hasil penelitian memiliki komparabilitras dan transabilitas pada kasus kasus hasil penelitianya

3)      Konseptualitas teori lebih implicit
Pada umumnya jarang yang menuntut ekspitisasi teori karena memang tak sesuai dengan watak dasar penelitian ethnografik yang mengandalkan sifat untuk membawa prakonsepsi lain daripada yang diperoleh didalam kontek objek penelitian yang sedang akan ditelitinya
4)      Dasar penelitian ethnographic
Empat dasar memilih objek study
  • Jadilah praktisi
  • Pilihlah tempat dimana anda agak asing
  • Jangan terlalu berpegang kaku pada rencana
  • Sejumlah topic sulit untuk dijadiakn objek penelitian

penelitian ethnographic mengenal dua macam desain
  • Study kasus : merupakan pengujian yang mendalam dan merinci dari satu konteks ,dari satu objek , dari satu kumpulan dokumen atau dari satu kejadian khusus
  • Desain multiple site studies : logika yang digunakan untuk desain ini berbeda dari multiple case tudies orientasinya lebih diarahkan pada pengembangan teori dan biasanya memerlukan banyak lokasi dan subjek daripada hanya dua atau tiga
5)       Data kualitatif
Dalam penelitian dengan pendekatan manapun dibedakan antara empiri dengan data , empiri yang relevan dengan objek penelitian dan dikumpulkan oleh peneliti disebut data
6)      Hubungan penliti
Dalam penelitian dalam metode ini menuntut terciptanya hubungan yang lebih akrab , lebih wajar , dan tumbuh kepercayaan bahwa peneliti tidak akan menggunakan hasil penelitianya untu sesuatu yang merugikan mereka

7)      Analisis data
Analisis data merupakan upaya mencari dan menata saecara sistematis catatan hasil observasi wawancara dan lainya untuk meningkatan pemahaman peneliti akan kasus yang sedang diteliti dan menyajikanya
D.Model paradigma naturalistic
  1. Model yang menemukan karakteristik kualitatif penuh
model penelitian ethnographic dapat dikategorikan menjadi empat dimensi yaitu model interpreatif geertz, model grounded teori , model ethnographil – ethnometodologi , model paadigma naturalistic


  1. Egon g. guba


  1. Penlitian naturalistic
Guba (1985: 39 – 44) mengetengahkan empat belas karakteristik penelitian naturalistik, yaitu :
a. Konteks natural (alami), yaitu suatu konteks keutuhan (entity) yang tak akan dipahami dengan membuat isolasi atau eliminasi sehingga terlepas dari konteksnya.
b. Manusia sebagai instrumen. Hal ini dilakukan karena hanya manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas dan menangkap makna, sedangkan instrumen lain seperti tes dan angket tidak akan mampu melakukannya.
c. Pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan. Sifat naturalistik memungkinkan mengungkap hal-hal yang tak terkatakan yang dapat memperkaya hal-hal yang diekspresikan oleh responden.
d. Metoda kualitatif. Sifat naturalistik lebih memilih metode kualitatif dari pada kuantitatif karena lebih mampu mengungkap realistas ganda, lebih sensitif dan adaptif terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
e. Pengambilan sample secara purposive.
f. Analisis data secara induktif, karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan. Yang dimaksud dengan analisis data induktif menurut paradigma kualitatif adalah analisis data spesifik dari lapangan menjadi unit-unit dan dilanjutkan dengan kategorisasi.
g. Grounded theory. Sifat naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori diangkat dari empiri, bukan dibangun secara apriori. Generalisasi apriorik nampak bagus sebagai ilmu nomothetik, tetapi lemah untuk dapat sesuai dengan konteks idiographik.
h. Desain bersifat sementara. Penelitian kualitatif naturalistik menyusun desain secara terus menerus disesuaikan dengan realita di lapangan tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat. Hal ini terjadi karena realita di lapangan tidak dapat diramalkan sepenuhnya.
i. Hasil dirundingkan dan disepakati bersama antara peneliti dengan responden. Hal ini dilakukan untuk menghindari salah tafsir atas data yang diperoleh karena responden lebih memahami konteksnya daripada peneliti.
j. Lebih menyukai modus laporan studi kasus, karena dengan demikian deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari bias. Laporan semacam itu dapat menjadi landasan transferabilitas pada kasus lain.
k. Penafsiran bersifat idiographik (dalam arti keberlakuan khusus), bukan ke nomothetik (dalam arti mencari hukum keberlakuan umum), karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya.
l  Aplikasi tentatif, karena realitas itu ganda dan berbeda.
m. Ikatan konteks terfokus. Dengan pengambilan fokus, ikatan keseluruhan tidak dihilangkan, tetap terjaga keberadaannya dalam konteks, tidak dilepaskan dari nilai lokalnya.
n. Kriteria keterpercayaan. Dalam penelitian kuantitatif keterpercayaan ditandai dengan adanya validitas dan reliabilitas, sedangkan dalam kualitatif naturalistik oleh Guba diganti dengan kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas.
  1. Paradigm Schwartz dan ogivly
Paradigma disiplin ilmu
  • Gerakan dari realitas sederhana ke realitas kompleks
  • Gerakan dari konsep tata hirarki ke heterarkhi
  • Gerakan dari citra mekanik k eke citra holographic
  • Gerakan dari determinasi ke interdeterminasi
  • Gerakan dari perakitan ke mhorphogenesis ‘gerakan dari tinjauan objektif ke perspektif

  1. Aksioma dalam paradigm naturalistic
Penelitian kualitatif naturalistik memiliki aksioma yang berbeda dari jenis penelitian yang berparadigma positivistik. Aksioma yang berlaku dalam penelitian kualitatif naturalistik adalah sebagai berikut.
1. Aksioma tentang Realitas atau kenyataan
a. Realitas atau kenyataan itu kompleks. Sistem dan organisme tidak dapat dipisah-pisahkan. Keber¬ada¬an-nya bergantung pada interaksi timbal-baliknya; Makna tidak atomistik melainkan kontekstual.
b. Ada tata dalam realitas. Semua yang nampak tertata itu ditentukan oleh alam pikir kita. Itu merupakan fung¬si tata pikir kita; Orientasi perilaku manusia itu pluralistik, baik orientasi pada nilai, pada politik dan lain-lain.
c. Realitas atau kenyataan itu tampil dalam berbagai per-spektif. Pespektif yang dipakai seseorang mempe¬nga-ruhi apa yang nampak sebagai realitas; Apa yang kita yakini mempengaruhi penampakan realitas; Reali¬tas ada sebagaimana dikenal manusia, dan bukan ada sebagaimana adanya.
d. Ada keterhubungan timbal-balik antara berbagai se-suatu. Segala sesuatu saling berhubungan. Ada jaring-an keterhubungan alam semesta. Ada keterkaitan timbal-balik antara yang mengenal dengan yang di-kenalnya.
2. Aksioma tentang interaksi antara yang mengenal dan yang di¬kenal
a. Hubungan itu indeterminatif. Ada keterlibatan timbal-balik antara yang mengenal dengan yang dikenalnya. Proses observasi mempengaruhi hasilnya.
b. Kausalitas itu timbal-balik.
c. Pengenalan kita itu sifatnya perspektif. Dari mana dan cara bagaimana akan mempengaruhi apa yang kita lihat; Pengetahuan dijaga (dari “bias”) bukan dengan mengabstraksikan dari semua perspektif, melainkan dengan membuat keseimbangan perspektif ganda untuk menghindarkan “bias”; sehingga objektivitas itu merupakan ilusi.
3. Aksioma tentang Keterkaitan pada waktu dan konteks
a. Keterkaitan pada waktu dan konteks menjadikan se-suatu itu kompleks. Sistem dan organisme tak dapat dipisahkan dari lingkungannya, karena makna dan ek-sistensinya terkait pada sistem dan organisme lain; Pengetahuan menjadi bermakna bila berada dalam konteks; Penelitian haruslah memperhitungkan seja¬rah-nya dan rinciannya daripada memperhitungkan sifat permanen dan generalisasinya.
b. Ada tata heterarkhik. Sistem dan organisme mana yang dominan bergantung pada keseluruhan situasi, dan ditentukan oleh interaksi sistem dan organisme.
c. Sesuatu itu besifat holographik. Informasi itu me-nyebar pada seluruh sistem, bukan terkonsentrasi pada titik tertentu.
d. Berlaku prinsip indeterminatif. Dalam sistem atau orga¬nisme yang kompleks kemungkinan masa yang akan datang dapat dikenal, tetapi akibatnya yang tepat sukar untuk dapat diketahui berdasarkan kondisi sekarang.
e. Ada kausalitas timbal-balik. Untuk memahami seluruh sistem diperlukan pengenalan sejarah atau prosesnya yang tidak dapat dipahami berdasarkan kondisi se¬ka-rang; Kausalitas timbal-balik cenderung meng¬hasil¬kan sesuatu yang tidak dapat diduga.
f. Terjadi proses morphogenetik. Perubahan itu tidak hanya berlangsung secara berkelanjutan dan kuanti-tatif, melainkan tak berkelanjutan dan kualitatif.
4. Aksioma tentang Pembentukan timbal-balik dan simultan.
a. Struktur tersusun heterarkhik. Struktur sistem dan organis¬me bekerja heterarkhik, membentuk jaringan pengaruh dan hambatan timbal-balik.
b. Ada kausalitas timbal-balik. Kausalitas deterministik kaku diganti dengan inovasi tak terduga, yang muncul secara morphogenetik melalui interaksi dan fluktuasi kausal timbal-balik; Kausalitas timbal-balik bukan mengarah ke stabilitas, melainkan ke perubahan sim¬bo-lik dan evolutif.
c. Sistem terbentuk secara morphogenetik. Sistem dan organisme baru dan berbeda terbentuk dari yang lama lewat proses yang kompleks; tata sistem dan organis-me yang lebih tinggi tersusun dari tata yang lebih rendah; tata juga dapat muncul dari tiada tata.
5. Aksioma tentang Keterkaitan pada nilai.
Kepentingan kita memberi perspektif pada pengetahuan kita. Semua pengetahuan kita pada hakekatnya merupakan pengetahuan atas kepentigan, meskipun kita tidak ber-maksud mengaitkan dengan kepentigan tertentu dalam mengembangkannya; suatu keharusan ilmiah untuk meng-adakan penelitian, bila manusia memang berkepentingan; Konsep paradigma bergeser dengan sendirinya. Hal ter-sebut membuka kemungkinan adanya program penelitian dengan asumsi yang sangat beragam.
  1. realitas ,, observasi dan gheneralisasi
dalam terapan penelitian itu berate bahwa kita perlu perlengkapi kognisi kita dan pembaca kita sehingga realitas yang kita deskripsikan dalam penelitian menjadi relitas yang beda
  1. kausalitas dan dampak nilai
phenomonologi termasuk paradigm naturalistic berpendapat bahwa bagaimanapun orang berupaya untuk tidak mempunyai kepentingan tetap saja ada keppentingan masuk dalam penelitian
  1. arus penelitian naturalistic
perbedaan yang tajam dengan metode positivistic dan rasionalistik metode model ini menuntuk langsung terjun kelapangan dan empat unsure ditata dan dikembangkan
  1. watak dan konteks naturalistic
    1. manusia sebagai instrument
    2. metoda metoda kualitatif
    3. iterasi empat unsure penelitian naturalistic
  • pengambilan sampel purposive
  • analisis data induksi
  • grounded teori
  • desain sementara

  1. a laporan penelitian kasus
  • hasil yang disepakati
  • laporan kasus
  • aplikasi tentative

11.b  kawasan dan keteladanan penelitian

11.c  kredibilitas
Bagi posotivisme sesuatu itu benar bila ada ishomorpisme antara data hasil study dengan realitas berbeda dengan naturalis yang memandang bahwa realitas itu ganda kebenaran itu perspektip
11.d  tranferabilitas , dependabilitas, dan konfirmabilita
Membangun transperabilitas bagi naturalis itu sangat berbeda dengan membangun generalisai dan prediksi pada positivis
12 memproses data secara naturalistic
Dalam paradigm naturalis datra tidak dilihat sebagai apa yang diberikan alam melainkan hasil interaksi antara peneliti dengan sumber data
E. model interaksionalisme simbolik
  1. interaksionalisme simbolik dan para pendahulu
  2. tujuh preposisi dasar
  3. mazhab chichago dan iowa
  4. prinsip metodologi dalam interaksi simbolik
  5. metode pemaknaan
F . metode konstruktivist




Powered by Blogger.