Pengertian Program Pemberian Kesejahteraan

6:56:00 AM


Pengertian Program Pemberian Kesejahteraan
            Menurut bambang Wahyudi (1991:8) mengemukakan bahwa:
“Program pemberian kesejahteraan adalah sebagai suatu bantuan berbentuk uang atau barang yang diberikan kepada pekerja sebagai balas jasa diluar gaji atau upah dan tidak memiliki hubungan langsung dengan produktivitas kerja. Sedangkan upah atau gaji merupakan kompensasi langsung karena berkaitan langsung dengan prestasi kerja”.

            Menurut Edwin Flippo yang diterjemahkan oleh Moh Masud (1992:25) mengemukakan bahwa :
“Program pemberian kesejahteraan karyawan merupakan tunjangan (fringe benefits) yang dalam pengertian luasnya dapat ditafsirkan sebagai pengeluaran untuk kepentingan para karyawan selain upah dasar yang biasa dan kompensasi variable langsung ynag dihubungkan dengan keluaran”.

            Menurut Dessler sebagaimana diterjemahkan oleh Molan (1998:174) menyebutkan bahwa program pemberian kesejahteraan adalah “Pembayaran keuangan tidak langsung yang diterima seorang karyawan untuk melanjutkan pekerjaannya dengan perusahaan”.

            Berdasarkan definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian kesejahteraan merupakan balas jasa tidak langsung yang berbentuk uang atau pemberian pelayanan kepada karyawan untuk tujuan pemeliharaan. Program pemeliharaan yang dilakukan melalui pemberian kesejahteraan ini bertujuan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik dan mental serta loyalitas karyawan agar mau bekerja hingga tiba masa pensiun.

Peranan Loyalitas Karyawan

7:32:00 AM


Peranan Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan merupakan faktor penting bagi perusahaan/organisasi. Menurut Siagian (1993:78) “Atas dasar kesetiaanlah suatu organisasi mampu mencapai tujuannya, karena dengan adanya loyalitas dari karyawannya, perusahaan dapat mencapai tingkat efisiensi tinggi sehingga dapat bertahan dalam kondisi perekonomian yang kompetitif”.
Dalam The Encyclopedia Britanica (1998:378) dinyatakan bahwa :
“A Man without loyalty doesn’t exist. It stirs and arouses him, brings meaning, direction, and purpose into his life and unities his activities. At the same time loyalty has a local function. Only by man’s willingness in cooperation with other to invest his intellectual and moral resources generously an whole heartdly in something beyond his own narrow circles has it been possible for communities of various kind to emege and continue to exists among them, family and nation. Both man and community are unthinkable without loyalty”.

“Seorang manusia tanpa loyalitas berarti ia tidak hidup. Karena adanya loyalitas dapat membangkitkan dan menyemangatkan dirinya, loyalitas memberi arti, arah, tujuan hidup dan menyatukan aktifitasnya. Di waktu yang sama loyalitas mempunyai fungsi sosial. Dengan adanya loyalitas sangat mungkin bagi manusia untuk terus memberikan intelektual dan moralitasnya secara luas bahkan melampaui keterbatasannya sendiri, hal ini dapat membuat manusia dapat muncul dan terus hidup diantara komunitasnya, yaitu sesama, keluarga dan bangsanya, tetapi hal ini tentunya bila memang benar-benar diinginkan olehnya. Baik manusia dan komunitas mustahil tanpa loyalitas”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi atau perusahaan sangat mustahil untuk terus berkembang tanpa loyalitas karyawannya. Karena bilamana karyawannya tidak loyal, berarti karyawan tidak akan maksimal dalam memberikan intelektual dan moralitasnya kepada perusahaan, padahal kesetiaan dan kepatuhan karyawan akan membuat mereka bersedia untuk melakukan sesuatu demi mempertahankan dan memajukan perusahaannya.
Prajudi Atmosudirdjo (1982:282) mengemukakan bahwa:
“Oleh karena itu sangatlah penting bagi setiap organisasi atau perusahaan untuk terus memupuk loyalitas karyawannya dan loyalitas karyawan yang harus dipupuk dalam rangka mensukseskan pelaksanaan keputusan adalah loyalitas organisasional, kesetiaan terhadap tujuan, misi, fungsi dan tugas organisasi”.

Hubungan Program Pemberian Kesejahteraan terhadap Loyalitas Karyawan

8:32:00 AM


                        Hubungan Program Pemberian Kesejahteraan terhadap Loyalitas Karyawan
Perilaku manusia tidak hanya disebabkan oleh sesuatu tetapi juga menuju kearah sesuatu atau mengarah pada suatu tujuan. Demikian pula halnya ketika manusia memasuki suatu perusahaan. Manusia memiliki beraneka ragam kebutuhan yang pemenuhannya tidak dapat diusahakan sendiri, melainkan melalui proses kerjasama yang terkendali dengan memanfaatkan jalur perusahaan. Karena itu, tujuan manusia memasuki perusahaan adalah untuk memenuhi kebutuhannya melalui kerjasama dengan orang lain. Kebutuhan masing-masing karyawan perusahaan dapat terpenuhi diantaranya melalui Program Pemberian Kesejahteraan, karena Program Pemberian Kesejahteraan berarti menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga para karyawan perusahaan dapat mencapai tujuannya, yakni memenuhi kebutuhannya dengan mengerahkan segenap usaha menuju keberhasilan perusahaan.
Mick Macrchington (1986:157) mengemukakan bahwa:       

 “Loyalitas karyawan terhadap organisasi akan sangat tergantung pada jenis rancangan apa yang akan dilakukan oleh pihak manajemen dalam hubungannya untuk karyawan. Oleh karena itu menjadi tidak realistis apabila pihak manajemen mengharapkan agar para karyawannya loyal terhadap perusahaan sementara pihak manajemen sendiri kurang memberikan perhatian terhadap orang-orang yang bekerja untuk mereka”.

            Pemberian kesejahteraan yang memperhatikan prinsip keadilan dan prinsip kewajaran (kelayakan) akan menciptakan dorongan kerja karyawan. Keadilan dalam pemberian imbalan, yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu dan standar pengupahan, akan menghasilkan kepuasan.

Robbins (1998:25) menyatakan bahwa:
            “Dalam kontrak psikologis antara perusahaan dengan karyawan, kepuasan antara dua pihak tersebut akan tercapai jika masing-masing berperan sesuai dengan yang diharapkan. Jika perusahaan memenuhi perannya, diantaranya adalah memberikan penghargaan dan kompensasi atas pekerjaan karyawan, maka kepuasan kerja karyawan akan tercapai. Jika kepuasan kerja telah tercapai, maka karyawan akan memunculkan sikap loyal, mencurahkan usaha, keahlian, pengetahuan, kreatifitas dan lain-lain”.

            Schgermeron (1991 :39) menyebutkan bahwa kontrak psikologis adalah “Sejumlah pengharapan individu dan menunjukkan apa yang diinginkan oleh individu dan organisasi untuk diberikan dan diterima satu sama lain dalam konteks hubungan kerja”. Kontrak ini menunjukkan pertukaran nilai yang menyebabkan individu bekerja untuk organisasi dan menyebabkan organisasi mempekerjakan orang tersebut. Gambar berikut ini menunjukkan pertukaran nilai antara individu dengan organisasi sebagaimana yang dimaksudkan dengan kontrak psikologis.

Loyalitas Karyawan

5:18:00 AM


            Loyalitas Karyawan
Pengertian Loyalitas Karyawan
Menurut The ensiklopedia Americana (1996:378), “loyalty is devotion to a couse, whether the cause is principle, or a group of principles, or to an institution, or a cluster of on institution”. Loyalitas adalah kesetiaan kepada sesuatu, baik kepada prinsip, sekelompok prinsip, atau kepada suatu lembaga atau sekelompok lembaga.
Menurut The Ensiklopedia Britanica (1998:378) loyalitas adalah :
            “ Loyalty as a general term, signifies aperson’s devotion or sentiment of attachment to a particular object, which may be another person or group of person, an ideal, a duty or a cause”.
      (loyalitas secara umum merupakan kesetiaan seseorang atau perasaan kasih sayang pada objek penting yang dapat berupa seseorang, sekelompok orang, cita-cita, tugas atau alasan tertentu).

Menurut Zain Badudu (1994:180) “Loyalitas adalah kesetiaan dan kepatuhan yang harus ada pada atasan, kepada perusahaan tempat bekerja”. Hasibuan (2001:94) menyebutkan bahwa :
“Loyalitas sebagai salah satu unsure dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap pekerjaan, jabatan, dan organisasi yang dicerminkan oleh adanya kesediaan karyawan untuk menjaga dan membela organisasi didalam atau diluar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggung jawab. Loyalitas menunjukan bahwa karyawan turut berpartisipasi aktif terhadap perusahaan atau korpsnya”.


Menurut Poerwopoespito (2000:58) mengemukakan bahwa:
“Loyalitas kepada pekerjaan tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggung jawab, disiplin, serta jujur dalam bekerja, hubungan kerja yang baik dengan atasan, kerja sama yang baik dengan rekan kerja, serta bawahan dalam penyelesaian tugas, menciptakan suasana mendukung dan menyenangkan di tempat kerja, menjaga citra perusahaan, dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang”.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa loyalitas karyawan dapat diartikan sebagai kesetiaan dan kepatuhan karyawan terhadap perusahaan. Loyalitas menggambarkan bagaimana seorang karyawan bersikap dan berprilaku dalam mendukung kelangsungan kinerja suatu organisasi atau suatu perusahaan dan loyalitas tersebut harus terus dikembangkan setiap hari agar karyawan tetap terus dikembangkan setiap hari agar karyawan tetap terus bersikap dan berprilaku positif pada perusahaannya.
Terciptanya loyalitas menjadi harapan baik untuk perusahaan maupun karyawan. Perusahaan yang loyal akan memperlakukan karyawan tidak hanya sebagai asetnya yang paling berharga namun juga sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan bersama. Di sisi lain, dengan memiliki karyawan yang loyal, maka perusahaan akan mencapai efisiensi dan efektifitas sebagaimana direncanakan.
Drs. T. Djoharsjah Mx, sebagaimana yang dikutip oleh Poerwopoespito (2000:18) mengatakan bahwa :
            “A loyal and faithfull employee who have no sufficient and knowledge, may easily be trained, but a smart and clever employee who no sufficient loyalty and faith is really dangerous (seseorang karyawan yang loyal dan dapat dipercaya namun tidak memiliki keahlian dan pengetahuan yang cukup, akan dengan mudah dilatih, namun seseorang karyawan yang pintar dan cerdas yang tidak memiliki loyalitas dan kepercayaan yang rendah akan sangat berbahaya)”.

            Loyalitas karyawan yang diungkapkan dalam sikap mental positif dapat menjadi umpan balik bagi perusahaan untuk mengukur besarnya motivasi bekerja, kepuasan kerja, serta kepedulian karyawan sebagai mitra usaha akan kemajuan perusahaan.

Sikap Yang Mencerminkan Loyalitas Karyawan

4:30:00 AM


Sikap Yang Mencerminkan Loyalitas Karyawan
Loyalitas karyawan terhadap perusahaan dapat terlihat dari sikap dan perbuatan karyawan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok masyarakat dalam hal ini perusahaan. Sikap karyawan sebagai individu berkaitan dengan sikap karyawan terhadap pekerjaannya. Robbins Stephen (1992:27) mengungkapkan bahwa “Ada tiga sikap karyawan terhadap pekerjaan, yaitu kepuasan kerja, keterlibatan kerja, dan komitmen”. Seorang karyawan yang memiliki komitmen yang kuat dapat diartikan sebagai karyawan yang loyal. Menurut Poerwopoespito (2000:214) “Loyalitas kepada pekerjaan, dapat tercermin pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggung jawab, disiplin, serta jujur dalam bekerja”.
Robbins (1992:110) mengemukakan bahwa:
“Sikap loyal terhadap pekerjaan, berkaitan dengan kelompok kerja (team). Kelompok kerja yaitu dua orang atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok kerja yang formal, baik berdasarkan kelompok menuret struktur organisasi, maupun berdasarkan tugas (tidak terbatas oleh struktur organisasi), memiliki perencanaan tugas-tugas yang dilaksanakan bersama untuk mencapai tujuan organisasi. Anggota dari kelompok kerja yang efektif akan menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi kepada kelompok tersebut”.

Poerwopoespito (2000:214) mengemukakan bahwa “Beberapa indikator yang menunjukkan loyalitas ini diantaranya adalah kepatuhan terhadap atasan, kebersamaan dengan kerja, serta kerja sama yang baik dengan bawahan dalam penyelesaian tugas”.
Sikap karyawan terhadap perusahaan diungkapkan oleh Robbins (1992:93) bahwa :

“Melalui kontrak psikologis yaitu kesepakatan tidak tertulis antar karyawan dengan organisasi atau perusahaan mengenai harapan-harapan untuk diberikan dan untuk diterima antara kedua pihak tersebut. Perusahaan diharapkan memperlakukan karyawan dengan adil, menciptakan kondisi kerja yang baik memberikan masukan atas hasil pekerjaan karyawan dan penghargaan lainnya. Karyawan diharapkan merespon hal tersebut dengan menunjukkan sikap kerja yang baik, mengikuti aturan serta menunjukkan loyalitas kepada organisasi”.

Menurut Poerwopoespito (2000:53) mengungkapkan bahwa:
“Sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah loyal. Sikap ini diantaranya tercermin dari adanya menciptakan dari suasana menyenengkan dan mendukung di tempat kerja, menjaga citra perusahaan, dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang”.

Berikut ini diuraikan sikap loyalitas karyawan sebagai berikut:
1.      Mencurahkan keahlian yang dimiliki
Poerwopoespito (2000:214) menafsirkan dari beberapa sikap antara lain membuat persiapan maksimal, kreatif dan senang belajar. Pada dasarnya, sikap inilah yang saat ini berkembang. Menurut Prambudi, (SWA 16/XVI/10, hal 27), nilai loyalitas saat ini disamakan dengan komitmen, yakni sejauh mana karyawan mencurahkan perhatian, pikiran dan dedikasinya pada perusahaan selama ia bergabung dengan perusahaa. Pada bagian yang lain Fritz Simanjuntak (SWA 16/XVI/10, hal 32), menyebutkan bahwa “ukuran yang pas untuk mengatahui loyalitas seorang karyawan adalah konsistensi kinerja sejauh mana SDM yang bersangkutan memberikan kontribusi dan prestasi untuk perusahaan”.
2.      Tanggung jawab
Setiap karyawan diharapkan bekerja secara total dan tuntas. Suatu hal yang diperlukan sehingga dikatakan bekerja secara total dan tuntas adalah tanggung jawab yang bersedia menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya.
3.      Disiplin
Setiap karyawan diharapkan memiliki kedisiplinan dan ketaatan dalam kehadiran maupun terhadap peraturan perusahaan
4.      Jujur
Poerwopoespito (2000:214) menuliskan bahwa “salah satu sikap yang mencerminkan kesetiaan terhadap pekerjaan adalah jujur”. Zain Badudu (1995:420) mengemukakan “Kejujuran yang diartikan sebagai tidak berbohong, tidak curang dan tulus”, dalam hal kecil pekerjaan merupakan pangkal tumbuhnya kejujuran dalam setiap pengabdiannya terhadap perusahaan.
5.      Patuh pada atasan
Loyalitas adalah kesetiaan dan kepatuhan. Pimpinan sebagai salah satu bagian dari tim kerja merupakan seseorang yang harus dipatuhi karena ia mengikat seluruh anak buah dalam satu sistem untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepada timnya. Patuh pada atasan berarti patuh pada peraturan yang ada yang mendukung kemajuan perusahaan serta dengan tidak melupakan untuk selalu memberi masukan pada atasan.
6.      Kerjasama dengan rekan kerja
Sikap positif karyawan yang dikatakan Poewopoespito (2000:168) “Berkaitan dengan rekan kerja adalah kebersamaan, dalam arti berkedudukan sama dan bekerja bersama-sama”. Sebagaimana ditulis oleh Prambudi (SWA 14/XVII, hal27), yang mengutip pendapat Arvan Pradiansyah bahwa “kebersamaan dengan karyawan menimbulkan suasana kondusif akan memenuhi kubutuhan sosial ekonomi. Kebutuhan ini jika terpunuhi akan menumbuhkan kepuasan yang menumbuhkan komitmen karyawan atau memperkuat loyalitas karyawan”.
7.      Kerjasama dengan bawahan
Dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, seorang atasan akan membutuhkan bantuan dan bekerjasama dengan bawahan, demikian pula sebaliknya.
8.      Menciptakan suasana menyenangkan dan mendukung
Suasana menyenangkan siartikan sebagai suasana yang membuat betah dan memuaskan ditempat kerja dan menunjang penyelesaian pekerjaan, tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk setiap orang yang ada di lingkungan kerja itu.
9.      Menjaga citra perusahaan
Poewopoespito (2000:80)  menuliskan bahwa “Jika citra positif perusahaan telah terbentuk maka kepercayaan masyarakat dapat memiliki perusahaan”. Hal ini akan mendukung kemajuan usaha dan keberadaan perusahaan. Salah satu upaya yang mencerminkan loyalitas karyawan menurut SWA (14/XVII) yaitu “Merekomendasikan perusahaannya kepada orang lain, yang secara tidak langsung menanamkan citra positif di masyarakat”.
10.  Kesediaan untuk bekerjasama dalam jangka panjang
            Karyawan yang loyal akan mempunyai rasa memeliki terhadap perusahaan. Rasa memiliki ini dapat dibuktikan dengan adanya kesanggupan untuk bekerja dalam jangka panjang. Prambudi (SWA, 16/XVI/27) menuliskan bahwa “Loyalitas pada pangkalnya diukur dengan lamanya seseorang bekerja di suatu perusahaan”. Kesediaan ini harus didukung oleh sikap lain sebagaimana disebutkan diatas atau sesuai dengan fenomena yang ada dilingkungan pekerjaan
Powered by Blogger.